Pesta Kolesterol di Festival Jajanan Bango


Halo! Jumpa lagi dengan saya Si Pelahap Maut...

Kalau pencinta musik rock di Indonesia biasa dimanjakan dengan ajang Java Rockin' Land setiap tahun, dan pencinta musik jazz juga bisa menikmati JakJazz atau Java Jazz, maka para pencinta kuliner punya ajang favorit bernama Festival Jajanan Bango (FJB).

Sabtu tanggal 16 Oktober lalu kebetulan ada acara FJB di Bandung, persisnya di Lapangan Tegalega. Sejak seminggu sebelumnya, saya sudah bikin riset kecil-kecilan soal siapa yang bakal "manggung" di acara itu. Beberapa di antaranya, sebut saja, ada Jejamuran dari Jogja, Soto Betawi Mpok Rodemah Jakarta, Mi Kocok Mang Dadeng, Iga Bakar Si Jangkung, Martabak Kubang, Sate Maranggi, Bebek Garang, Kupat Tahu Padalarang, dan masih banyak lagi. Alasan saya mencari info terlebih dulu adalah karena tentu saja saya tidak mungkin menyambangi keseratus stan yang ada (yah, katanya sih ada 100 stan peserta, tapi saya nggak ngitung juga), jadi harus pilih-pilih juga. Makanan yang tidak ada di Bandung toh bisa dicoba nanti-nanti. Sayang acara begini cuma digelar sehari. Kalau misalnya diadakan selama dua hari, Sabtu-Minggu, saya pasti makin bersorak gembira.

Sejak jam 9 pagi saya sudah Siaga 1 di sini. Pengunjung sudah cukup ramai, tapi area pesta kolesterol ini belum bisa dibilang padat. Mungkin karena masih pagi. Area acara ini mengambil satu lokasi di dekat tugu di tengah Lap. Tegalega (tugu apa itu saya juga nggak tahu), dan sekeliling area itu dibatasi dengan pagar besi yang mudah dibongkar-pasang (knock-down), memisahkannya dari trek jogging dan para pedagang kaki lima yang memang biasa mangkal di situ setiap Minggu pagi. Berhubung saya masih harus memutari satu sisi lapangan lagi, saya langsung masuk ke area acara melalui salah satu pintu besi yang terbuka, walau tampaknya ini bukan pintu masuk yang 'resmi'.

Pemandangan di dalam area langsung membuat nafsu saya terbakar. Area itu diatur cukup rapi, dengan tenda-tenda di setiap sisi lapangan, termasuk denah para peserta pesta kolesterol. Berhubung saya sudah lapar berat, saya langsung mencari target pertama saya dulu: Sate Jamur. Nama resto aslinya sih Jejamuran (kok jadi inget kata 'jamuran' ya? hehehe). Resto satu ini berasal dari Jogja, kampung halaman ibu saya dan kota tempat saya menghabiskan hampir setengah umur saya. Menurut brosur yang saya baca, Jejamuran berdiri sejak 2005 di Jogja, dua tahun sebelum saya lulus kuliah tuh...hehehe. Misinya sih meningkatkan kesejahteraan petani jamur dan memperkenalkan jamur kepada masyarakat sebagai masakan alternatif. Berbekal resep keluarga, jadilah beragam jenis jamur ini disulap menjadi berbagai jenis masakan berbasis jamur: sate, tongseng, sop, risoles, tumis, pepes, jamur goreng-bakar, bahkan sampai tomyam dan gudeg jamur. Sayang, di FJB ini yang dihidangkan cuma sate jamur dan jamur bakar pedas.

Stan Jejamuran. Belum terlalu ramai waktu saya datang.

Target pertama: Jejamuran. Saya pesan sate jamur dan jamur bakar pedas, masing-masing seporsi saja :)

Saya memang penasaran dengan makanan yang satu ini, setelah selama ini cuma mengetahui informasinya dari media saja. Berhubung stan ini cuma menyediakan dua menu saja untuk FJB ini, saya langsung pesan dua-duanya: sate jamur dan jamur bakar pedas. Masing-masing cuma seharga 10 ribu, masing-masing terdiri dari 4 tusuk sate yang agak gemuk ukurannya, berikut nasi dan lalap. Untung ada area makan di dekat tenda Jejamuran, jadi saya langsung berlari ke satu meja yang kosong dan langsung melampiaskan nafsu bejat saya karena belum makan apa-apa sejak pagi... hehehe! Dan betul juga kata review-review yang saya baca di Internet.... rasanya uenaaaakkk!! Sate jamurnya malah terasa seperti daging ayam. Empuk. Jamur bakar pedasnya juga mantap, terutama bumbunya. Jamur bakar ini juga menggunakan tusuk sate, jadi saya bingung juga mana yang sate mana yang jamur bakar pedas. Soalnya satenya juga saya siram dengan bumbu dan sambal yang banyak, jadinya ya sama-sama pedas. Seperti biasa, sampai lalapnya pun saya sikat habis.

Oke, sekarang saya mau coba makan bebek. Tak jauh dari meja saya ada stan Bebek Garang. Nama-nama menunya lucu-lucu: bebek debus, bebek negro, bebek buas, bebek brur, dll. Saya cobain Bebek Debus dan Bebek Negro aja deh. Ini bebek yang pernah dibilang maknyus oleh Pak Bondan di Wisata Kuliner TransTV edisi entah kapan. Bebek bakar ini diracik dengan bumbu bakakan merah khas Rangkasbitung. Orisinal, sedikit pedas, dan bumbunya sangat meresap ke daging bebeknya. Daging bebek yang lembut berpadu dengan bumbu manis dengan sentuhan pedas. Tersaji dengan sambal yang nendang (well, masih kalah pedes sih sama Bebek Slamet).

Yang satunya lagi, Bebek Kagok Negro Bakar. Buat yang suka bebek yang agak manis, boleh pesan yang ini, nih. Bebek bakar dengan bumbu kecap yang meresap sampai ke dalam. Bumbunya merasap dan rasa manisnya seperti terasa samapai ke tulang. Apalagi saya menyantap bebek ini ditemani beberapa tusuk jamur bakar pedas yang masih tersisa.

Buat saya pribadi, sih, saya masih lebih suka sajian bebek yang kering ketimbang yang 'basah', apalagi kalau bebeknya ditemani sambal yang pas, enak, dan pedas. Sejauh ini saya masih memfavoritkan Bebek Slamet. Tapi untuk soal masakan bebek berbumbu, Bebek Garang ini bolehlah dimasukkan ke dalam daftar tujuan kuliner. Di Bandung, Bebek Garang berlokasi di Jl. Braga.

Membantai sepotong besar bebek debus dari Bebek Garang.

Setelah menyisakan kotak makanan dan tulang-tulang bebek berserakan di meja, saya kemudian berjalan untuk mencari makanan-makanan lain, sambil membeli dua botol air mineral dingin. Saya memerhatikan bahwa penataan stan-stan di FJB cukup rapi. Di depan setiap stan selalu ada papan nama dan daftar serta harganya. Ini tentu saja memudahkan para pembeli. Saya juga baru tahu bahwa di area ini ada tempat khusus cuci tangan yang disediakan oleh Lifebuoy. Wah, produk-produk Unilever keluar semua nih... Ada juga panggung besar di bagian depan tengah area, dengan seperangkat alat musik. Kalau saja Limp Bizkit dijadwalkan manggung di situ, pasti habis makan saya bisa langsung jingkrak-jingkrak buat membakar kalori. Kemudian saya juga melihat satu stan tersendiri. Namanya Kampung Bango, yang menampilkan simulasi pembuatan Kecap Bango dari bahan dasar kedelai.

GB

Stan Kampung Bango, menampilkan simulasi pembuatan dan pengemasan Kecap Bango.

Papan nama dan daftar harga di depan setiap stan.

Tempat cuci tangan, penuh logo Lifebuoy.

Saya berjalan melewati stan Martabak Kubang. Di bagian depan stan sudah tercium aroma harum martabak tebal yang berasal dari wajan martabak dan roti cane. Pemandangan deretan martabak gemuk-gemuk dan tumpukan roti cane di stan ini bikin saya bersumpah untuk beli buat dimakan di rumah. Di sebelahnya juga ada stan yang menjual tempe mendoan. Duh, ini cemilan favorit saya kalau lagi ada di kampung nenek saya dari bapak di Sumpiuh, satu jam sebelah timur Purwokerto. Tanpa basa-basi saya langsung beli setumpuk tempe mendoan. Kering-kering bekas gorengannya juga sekalian saya raup buat meramaikan kotak plastik si tempe.

Stan Martabak Kubang. Masaknya di bagian depan sih, jadi bikin ngiler Si Pelahap Maut :)

Sehabis beli tempe mendoan, saya lalu tertarik mencicipi sate Maranggi sebagai penutup makan besar saya pagi ini. Setelah tamat melahap sate sapi Maranggi, saya kembali ke stan Martabak Kubang untuk mewujudkan sumpah saya. Saya memesan martabak spesial yang terbuat dari 3 telur, ditambah seporsi roti cane plus kari kambing. Belakangan, di rumah, saya mulai mengintip bungkusan yang saya bawa itu. Martabaknya persis seperti martabak yang lain, berbentuk segi empat dan dipotong kecil-kecil. Sausnya yang dibungkus plastik saya tuangkan ke mangkuk kecil. Saus ini berwarna semburat kemerahan bercampur gosong kecokelatan dan segera menebarkan aroma yang harum. Saat mencicipi saus encer ini, terasa dominasi rasa kecap, ditambah irisan tipis tomat merah, bawang bombay dan cabai rawit. Rasanya? Manis, asin, pedas dan segar. Konon racikan saus inilah yang bikin orang ketagihan.

Cara makannya bebas saja. Bisa mencelupkan martabak, bisa juga dengan cara menaruh sepotong martabak yang masih hangat itu di piring dan diguyur 2-3 sendok makan saus. Setelah dibiarkan sesaat, rasa saus akan meresap dan martabak jadi agak lembek. Saat sampai di mulut, wouw...pedas, gurih, sedikit manis. Isinya pedas dan kulitnya 'krenyes-krenyes'. Uenaaak! Kalau martabak telur biasa diisi daging cincang plus irisan daun bawang, martabak Kubang ini diisi rendang daging yang diiris halus berikut bumbunya lalu dikocok bersama campuran telur bebek dan telur ayam. Rasa kulit yang gurih renyah dengan isi yang pedas harum inilah yang memikat. Rasa agak pedas ini bikin saya ketagihan dan pengen beli lagi kapan-kapan. Ternyata di Bandung ada Martabak Kubang asli yang berlokasi di Jl. Jakarta.

Kemudian saya membuka bungkusan roti cane. Roti cane adalah sejenis flat bread alias roti tanpa ragi. Jadi, tak bakalan terasa empuk seperti roti manis atau roti tawar yang beragi. Roti pipih gaya India ini terbuat dari tepung terigu, mentega, dan air. Setelah adonan dibentuk pipih, dimasak di atas wajan datar hingga berwarna kuning kecokelatan. Lapisan lemak mentega membentuk guratan-guratan adonan yang berlapis-lapis. Saat menyajikan, roti cane diurai hingga serpihan lemak dan aromanya yang sangat gurih menggelitik hidung. Cara makannya, persis seperti makan kari India, cuil sedikit demi sedikit rotinya, lalu celupkan ke dalam kari kambing. Rasa gurih roti cane sangat pas dengan rasa pekat pedas kari kambing yang berkuah kental. Supaya lebih asyik, saya pun menyapukan sepihan roti pada kuah pekat kari di keliling piring hingga bersih tandas...hmm..sedap sekali! Roti canenya juga cukup tebal sehingga lumayan mengenyangkan.

Roti cane yang masih tersisa kemudian saya kombinasikan dengan susu kental manis. Cukup menyiramkan susu ke atas roti, lalu dimakan. Rasanya juga enak sekali.

Kotak pembungkus Martabak Kubang. Ternyata martabak yang satu ini berasal dari Sumatera Barat.

Martabak Asli Kubang

Roti cane dan kari kambing nan lezatos! :)

Oh ya, kalau sedang "bermasalah" dengan daging kambing, Martabak Kubang juga menyediakan kari ayam. Tadinya saya mengira nama 'Kubang' itu karena martabak direndam kuah seperti dalam kubangan. Tetapi setelah bertanya kepada penjualnya, barulah saya tahu nama 'Kubang' diambil dari nama sebuah desa di daerah Payakumbuh, Sumatera Barat. Untuk menciptakan cita rasa yang sama dan menampilkan ciri khas daerah Kubang, semua bumbunya dikirim langsung dari Kubang. Pantas saja racikan bumbunya sangat 'berani' dan mantap.

Nah, berhubung saya sudah nongkrong di area FJB selama hampir dua jam dan sudah menghabiskan lebih dari US $10 buat jajan, saya pun memutuskan pulang. Mereka yang datang agak siang atau malah sore saya pastikan akan terjebak kemacetan dan juga keramaian pengunjung yang membludak menjelang siang. Sesi sarapan saya hari itu pun berakhirlah setelah menyantap kira-kira 4 porsi makanan berat plus sedikit camilan berupa 4 potong besar tempe mendoan.

Sebenarnya saya masih sanggup menyantap seporsi nasi goreng atau iga bakar Si Jangkung yang maknyus itu. Tapi itu bisa lain kali, karena makanan-makanan itu bisa didapat di Bandung.

Jadi, sampai jumpa lagi di warung makan berikutnya. Hajar, bleh! :)


Pulang dengan perut kekenyangan sambil membawa martabak Kubang, tempe mendoan, dan setumpuk roti cane buat makan siang di rumah :)


Pintu ini mungkin untuk mengevakuasi para pelahap maut yang pingsan kekenyangan :-)


Pesta kembang api menutup ajang pesta kolesterol ini.

1 komentar:

  1. dahsyat!
    waduh lupa ngeliput,,,
    http://gorong-gorongkebudayaan.blogspot.com/

    ReplyDelete