Iga Bakar Mas Giri



Jumpa lagi dengan saya Si Pelahap Maut.

Kali ini saya mau cerita soal kunjungan kenegaraan saya ke satu resto iga bakar yang relatif baru di Kota Bandung. Namanya "Iga Bakar Mas Giri". Saya pertama kali melihat resto ini karena kebetulan sedang melintas di depan Taman Pramuka di Jl. R.E. Martadinata (alias Jl. Riau) dengan Shogun saya yang keren itu. Jalan Riau memang terkenal dengan banyak resto/warung makan enak dan juga deretan factory outlet-nya. Waktu itu restonya lagi rame, dan banner-nya juga gede dan ngejreng dengan warna dominan merah dan kuning. Mobil dan motor yang parkir hampir sama banyaknya di area parkir yang cukup luas, dan keramaian itu membuat nafsu makan saya curiga.

Sejak masuk dari pintu depan, aroma wangi daging iga yang sedang dibakar sudah tercium. Dapurnya memang terlihat dari ruang makannya, sehingga terkadang asap bakaran pun mampir menggoda hidung pengunjung. Ruangan di dalamnya lega, dengan meja kayu dan empat kursi untuk tiap mejanya. Pastinya resto ini cocok sekali untuk makan rame-rame dengan keluarga atau teman-teman. Pada akhir pekan, siap-siap aja kehabisan tempat. Resto ini menyediakan menu yang semuanya serba berbasis iga sapi. Sebut saja iga bakar, iga penyet, steak iga, sop iga, gule iga, sate iga goreng/bakar, nasi goreng iga, dan masih banyak lagi.

Resto ini, berdasarkan keterangan yang saya baca di lembar menu, dimiliki oleh Sugiri. Pria ini pada 1996 hijrah ke Medan dan membuka warung kaki lima dengan berbagai macam menu, khususnya masakan ala Lamongan. Ternyata justru iga bakarnya yang diminati pengunjung. Alhasil, dia pun melebarkan sayap dengan membuka warung iga bakar di beberapa kota di luar Medan, hingga akhirnya buka di Bandung pada tahun ini.

Pada kunjungan saya yang kedua ini (sebelumnya udah pernah sih), saya memesan nasi goreng iga dan paket iga bakar yang terdiri dari iga bakar + nasi putih + sambal + lalap. Tak lupa saya pesan seporsi tumis kangkung buat sayurnya. Iga bakar di sini dikawal dengan potongan salada, tomat, dan timun, plus masih ditemani semangkuk kecil kuah asin yang mirip sop. Maklum, iga bakarnya selalu disiram dengan bumbu kecap nan lezat. Jadi buat Anda yang kurang suka yang manis-manis, bisa celup-celup aja bakarnya ke sop ini.

Ini dia menu yang saya pesan.

Dan... wah, daging iganya empuk dan lezat banget! Mau dipotong dulu pakai pisau atau langsung digigit, dagingnya langsung 'tercerabut'...hehehe. Bagi beberapa orang, daging iganya mungkin terlalu manis. Tapi ini bisa dinetralisir dengan sambal yang disediakan satu pisin (yang cukup bikin keringetan, sebenarnya, kalau dimakan semua), atau dengan sop tadi. Nasi gorengnya sih tergolong biasa saja. Untung masih ada potongan-potongan daging iga yang agak besar dan tetap gurih dan empuk. Paling top ya ditambah tumis kangkung tadi. Kalau menyimak rasa daging iganya, rasanya nggak sulit membayangkan rasa sate iga atau gule iganya, yang sayangnya belum sempat saya cicipi berhubung keterbatasan alokasi di perut. Yang pasti saya akan kembali ke sini lagi kapan-kapan untuk membantai menu-menu yang belum sempat saya cicipi. Oh ya, kalau mau mampir ke sini, sediakan selalu uang pas. Terakhir saya makan di sini, resto ini belum menerima pembayaran elektronik.


Hajar, bleh!

Berikut ini daftar menu yang disediakan Iga Bakar Mas Giri:

Iga bakar 19rb (kecil) / 27rb (besar)
Iga penyet 19rb (kecil) / 27rb (besar)
Steak iga 19rb (kecil) / 27rb (besar)
Sop iga 27rb
Gule iga 27rb
Sate iga goreng/
bakar 27rb
Nasi goreng iga 15rb / 23rb
Paket ayam
bakar/penyet 19-21rb

Untuk minumannya, saya kira standar saja. Ada beberapa macam jus buah dengan harga rata-rata 10 ribu dan minuman lain seperti teh, kopi, dan teh botol. Oh ya, resto ini buka dari jam 11.00-23.00.

Jadi, tunggu apa lagi? Sampai jumpa di warung makan berikutnya! Hajar, bleh! :)

0 komentar:

Post a Comment