
Rabu, 30 September 2009
Bandara Soekarno-Hatta, pukul 11 siang. Setelah makan di warung padang terdekat (demi mengirit uang jajan) di area parkir Terminal 2D, saya langsung mejeng di lobi terminal itu untuk menunggu kedatangan Peer Holm Jorgensen, penulis novel The Forgotten Massacre (TFM), di depan pintu keluar. Di monitor Samsung besar di dinding, saya melihat keterangan bahwa pesawat Thai Airways nomor penerbangan 433 sudah mendarat. Sekitar 15 menit kemudian, penumpang-penumpang mulai keluar dari loket imigrasi. Dalam e-mail terakhirnya, dia bilang dia akan memakai kemeja biru, celana jins biru, dan sepatu sport Reebok. Tak sulit menemukannya di antara bule-bule yang baru keluar, dan pakaiannya persis seperti yang dijanjikan. Lagi pula, saya sudah sering melihat fotonya di buku yang ditulisnya, The Forgotten Massacre, yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Qanita/Mizan bulan Juni lalu. Setelah dua kali melambai, Peer segera menyadari kehadiran saya.
Tingginya 185 cm, kurus, dan berkacamata. Bawaannya tidak banyak: satu tas tas kerja untuk laptopnya dan satu lagi koper beroda ukuran sedang untuk semua pakaiannya. Peer menyalami saya dengan hangat dan kami saling menanyakan kabar masing-masing. “Lucu sekali. Ketika turun dari pesawat tadi, saya tidak sedikit pun mendapatkan perasaan yang saya duga akan muncul ketika kembali ke negeri ini,” Peer bercerita. “Saya tidak merasa gembira meluap-luap atau dag-dig-dug, biasa saja. Mungkin nanti,” lanjut Peer sambil tertawa. Butuh beberapa menit bagi saya untuk “pemanasan” dan membiasakan diri dengan bahasa Inggris logat Denmark-nya, sampai akhirnya telinga dan lidah saya mulai terbiasa lagi dengan lingua franca yang satu ini.
Dari bandara, kami segera meluncur ke arah pusat kota Jakarta dengan Avanza sewaan. Sepanjang perjalanan, Peer banyak bercerita ini-itu. Segera saja kelihatan wataknya yang ramah, terbuka, dan doyan menceritakan apa pun. Hampir satu jam kemudian, kami memasuki pelataran sebuah gedung di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Ketika tiba di lobi hotel dan bertemu resepsionislah kami menyadari bahwa kami tersasar. “Ini Hotel Sofyan Cikini, Mas. Bukan Hotel Sofyan Betawi,” jelas si Mbak resepsionis.
“Weks! Kok namanya Sofyan juga?” tanya saya kaget.
“Ya, kami memang masih satu grup. Makanya ada nama Sofyan. Mau check-in sekalian?”
“Wah, nggak Mbak. Soalnya saya sudah bikin reservasi di Sofyan Betawi. Makasih ya.”
“Weks! Kok namanya Sofyan juga?” tanya saya kaget.
“Ya, kami memang masih satu grup. Makanya ada nama Sofyan. Mau check-in sekalian?”
“Wah, nggak Mbak. Soalnya saya sudah bikin reservasi di Sofyan Betawi. Makasih ya.”
Setelah menanyakan lokasi hotel yang kami maksud, meluncurlah kami ke sana. Kali ini tentu tak salah lagi. Setelah membayar lunas biaya menginap untuk empat hari buat Peer dan satu hari buat saya, kami segera naik ke kamar kami di lantai 2. Setelah melihat kamar kami, kami turun lagi ke lobi dengan mengempit laptop masing-masing untuk online. Ternyata mutu wi-fi di sini payah sekali, kalau tak bisa dibilang buruk. Setelah setengah jam bersabar, kami menyerah dan memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Jam 3 sore waktu itu. Peer meminta waktu untuk beristirahat dan kami berjanji bertemu lagi jam 6 sore untuk makan malam. Peer sebelumnya menolak tawaran saya untuk makan siang karena dia merasa masih kenyang karena sudah makan di pesawat.
Berhubung dia sedang beristirahat, saya kembali ke kamar saya, membuka laptop, dan menuliskan semua ini. Mari saya ceritakan dulu siapa Peer Holm Jorgensen itu. Pria 63 tahun ini dilahirkan di kota kecil Aars, Denmark, dan dibesarkan di ibu kota negara itu, Kopenhagen. Pada usia 16 tahun, dia memutuskan untuk minggat dari bangku sekolah dan bekerja sebagai asisten koki di sebuah kapal kargo demi memuluskan cita-citanya untuk berkeliling dunia. Pengalamannya berkeliling dunia memperoleh wawasan luas dan mendalam tentang keragaman jenis politik, karakter masyarakat dan manusia di seluruh dunia, ketika dunia masih riuh dengan konflik dan huru-hara skala internasional. Setelah puas menekuni berbagai macam profesi dalam bidang perkapalan, perfilman, dan konsultasi manajemen di berbagai negara, dia kembali ke Denmark dan mendirikan penerbit bernama Isotia untuk menerbitkan buku-buku yang berkaitan dengan masa depan umat manusia. TFM adalah buku ketiga yang ditulisnya. Peer datang ke Indonesia dalam rangka tur promosi buku TFM. Rencananya dia akan berkeliling Jakarta, Bandung, Surabaya, Ubud (Bali), dan Yogyakarta untuk tur ini.
Oh, ada yang menelepon ke kamar saya. Siapa lagi kalau bukan Peer. Saat itu sudah jam 6 lewat sedikit. Saya minta waktu untuk mandi dan sholat Magrib dulu. Sejujurnya saya tidak tahu mau mengajak Peer ke mana malam itu. Saat itu masih jam pulang kantor dan jalanan di banyak sudut Jakarta masih macet. Akhirnya saya putuskan untuk mengajak dia ke kawasan Jl. Sabang, satu ruas jalan di belakang Sarinah yang tenar dengan banyak warung kaki lima dengan menu yang enak-enak. Setelah berputar-putar, saya putuskan untuk mengajak Peer makan mie ayam bakso. Sekali lagi: mie ayam baso. Minumnya coca cola saja. "Saya tidak punya pantangan makan. My mother taught me to eat what is put in front of me," katanya.
Peer tampak menikmati suasana makan di pinggir jalan itu. Makin lengkaplah suasana jalanan dengan peminta-minta, pengamen, dan banci. Bukan hanya dia satu-satunya bule yang makan di warung itu. Ada tiga pemuda pirang dengan santai menyambangi warung ini. Melihat penampilan mereka, saya curiga ketiga bule itu adalah bule gembel backpacker yang menginap di Jl. Jaksa.
Peer makan mie ayam bakso di Jl. Sabang, Jakarta
Setelah makan malam dan membeli kartu SIM untuk ponsel Peer, kami segera menuju toko buku Gramedia di Grand Indonesia, sekadar mengecek display buku TFM dan melihat-lihat tempat diskusi buku untuk hari Jumat (1 Oktober). Peer dengan cepat segera menemukan rak yang men-display bukunya. Selang beberapa menit, seorang pria kantoran tampak tertarik dengan tingkah kami yang sedang asyik berfoto ria. Peer menegurnya dan menunjukkan foto dirinya di leaflet. "Ayo beli buku saya. Nanti saya tanda tangani, mumpung Anda ketemu saya sekarang," kata Peer berpromosi. Kemudian kami banyak bercakap-cakap tentang isi buku Peer dengan pria itu. Sayang, orang ini tidak punya banyak waktu untuk membaca, jadi dia urung membeli TFM.
"Ayo Mas, beli buku saya. Nanti saya tanda tangani."
Malam itu saya juga mendapat SMS dari rekan saya Fan-Fan bahwa TV One membatalkan wawancara yang tadinya dijadwalkan sekitar jam 7 atau 8 pagi. Penyebabnya tak lain adalah gempa dahsyat berkekuatan 7,6 SR yang berpusat di Pariaman, Sumatra Barat, yang getarannya terasa hingga ke Singapura dan Malaysia. Kemungkinan wawancara diundur ke Jumat pagi. Jadi, berhubung kami tak punya acara untuk Kamis pagi, saya mengusulkan agar kami pergi ke Tanjung Priok. Peer tentu saja menyetujui usul saya. Setibanya di hotel, Fan Fan sudah menunggu di lobi. Setelah menaruh barang-kamar kami di kamar, saya dan Fan Fan mampir dulu ke kamar Peer untuk ngobrol. Di sana kami banyak membicarakan isi buku Peer, masalah-masalah sosial-politik, dan sebagainya.
Setelah ngobrol satu jam lebih, mata saya mulai protes meminta jatah merem berkali-kali. Peer tampaknya menyadari hal ini dan bilang, ”Are you falling asleep, Indra?” Saya cuma nyengir dan menjawab bahwa saya sudah tak tidur sejak pukul 02.oo, gara-gara nonton Barcelona menang 2-0 atas Dynamo Kiev dan menyaksikan Liverpool dipermalukan Fiorentina 0-2. Saya dan Fan Fan kemudian pamit undur diri ke peraduan kami di kamar 259, persis di depan kamar Peer.
Lagi minta tanda tangan Peer di buku saya
Sebelum tidur, saya sempat menonton berita di TV dan menyaksikan liputan tentang gempa Pariaman itu. Innalillahi. Ratusan rumah hancur dan puluhan orang tewas. Persis sama dengan yang saya alami di Jogja tiga tahun lalu. Esoknya, ratusan wakil rakyat “angkatan” baru dilantik resmi sebagai anggota DPR setelah menginap selama empat hari di Hotel Sultan Jakarta dengan biaya menginap total Rp 4,2 juta per orang.
Kamis, 1 OKtober 2009
Kami turun ke restoran hotel untuk sarapan. Peer lagi-lagi tak tampak enggan melahap makanan apa pun yang ada di depannya. Soal porsi, jelas saya jawaranya. Setelah sarapan, seperti yang sudah disepakati, kami menuju kawasan Tanjung Priok. Lewat beberapa e-mail sebelum dia datang, Peer memang sudah menanyakan kemungkinan berkunjung ke kawasan itu untuk “napak tilas”. Dalam buku The Forgotten Massacre, tokoh Kasper (yang tak lain adalah Peer sendiri), sering mengunjungi London Bar, satu dari banyak bar di kawasan pelabuhan itu yang banyak dikunjungi pelaut-pelaut asing yang sedang berlabuh.
Peer kembali ke Tanjung Priok setelah 43 tahun
Saya sendiri seumur hidup malah belum pernah pergi ke pelabuhan Tanjung Priok. Ingatan Peer akan masa lalunya di kawasan sekitar pelabuhan itu, 43 tahun lalu, membawa kami ke perkampungan kumuh di dekat tempat pelelangan ikan dan bau amis merebak ke mana-mana. “Now this is real Indonesia,” canda Peer menyaksikan semua itu. Ketika mampir ke Grand Indonesia malam sebelumnya, dia tampak tersentak melihat kemewahan mal itu. "Ini seperti bukan di Indonesia. Di Denmark tidak ada mal yang sebesar ini." Kehadiran Peer sempat menarik perhatian warga di situ. Setelah bertanya ke sana kemari, kami disarankan untuk menyeberang ke sisi sebelah untuk bertanya ke kantor Syahbandar. Petugas-petugas di kantor itu cukup ramah dan banyak menjawab pertanyaan kami. Kami sempat bungah mendengar informasi bahwa London Bar mungkin masih ada. Tetapi setelah mencari ke sana kemari, kami akhirnya menyerah. "Let it go. Seharusnya ada di sini, kalau melihat crane itu. Tapi sekarang sudah jadi perkampungan kumuh," katanya.
Setelah makan siang dengan menu cap-cay dan jus mangga di satu food court di Menteng Huis, kami kembali ke hotel untuk wawancara dengan wartawan Koran Tempo yang sudah menunggu. Wawancara dimulai sekitar jam 13.15 di ruang tamu kamar Peer, sementara saya mengetik artikel ini di meja di ruang yang sama. Menjelang jam 15.00, giliran seorang wartawati dari Republika yang mewawancarai Peer.
Wawancara dengan Koran Tempo, berlangsung hampir 2 jam
Setelah selesai dengan urusan Peer, termasuk menemui tamu saya di lobi untuk urusan pekerjaan, saya berangkat ke Gramedia Matraman, menemui satu lagi calon penulis Mizan, dan langsung pulang ke Bandung.
0 komentar:
Post a Comment