Lontong Kari Kebon Karet


Setelah lama tidak berwisata kuliner, kali ini saya penasaran ingin mencicipi lontong kari. Dan salah satu warung lontong kari ternama di Bandung terletak di Kebon Karet. Saya pernah melihat salah satu episode Wisata Kuliner-nya suhu makan, Bondan Winarno, tentang tempat ini. Siang menjelang sore itu Sabtu lalu (18/7), meluncurlah Suzuki Shogun saya ke Gang Kebon Karet, tak jauh dari Stasiun Bandung. Berhubung baru pertama kali ke tempat ini, saya langsung
nyelonong
masuk ke gang sempit ini (lebarnya tak sampai 1,5 meter) dan parkir di depan warung itu, tanpa mengetahui sebelumnya ada parkir khusus motor di gapura sedikit di dalam gang masuk. Di pinggir jalan juga ada banyak mobil parkir yang sepertinya pengunjung warung ini.

Berhubung gangnya sempit, maka bentuk warung ini pun jadi memanjang dan terbagi jadi dua bagian, di kanan dan kiri gang. Tempatnya bersih, berlantai keramik, dan tampak jadi satu dengan rumah induknya. Saya memesan dua porsi lontong kari biasa. Sebenarnya ada menu lontong kari spesial. Bedanya, yang spesial ada tambahan setengah potong telur rebus. Sebagai pelancar tenggorokan, saya memesan semangkuk es campur. Tak sampai 10 menit kemudian, pesanan saya datang. Penyajian lontong karinya cukup sederhana. Lontong yang berbentuk kotak dibelah-belah menjadi beberapa bagian, lalu tiap bagiannya dipotong kotak-kotak kecil. Ada potongan-potongan daging sapi rebus empuk dan kuah santan berbumbu rempah di atasnya. Lalu ada kacang kedelai goreng, lalu bawang goreng, emping, dan terakhir seiris jeruk nipis. Saya mencicipi kuahnya terlebih dulu, karena biasanya di sinilah letak penentuan enak tidaknya makanan berkuah. Dan? Hmm... gurih sekali! Menurut lidah saya, ada 14 macam rempah yang dimasukkan ke dalam kuah santan Lontong Kari Kebon Karet. Sebut saja cabe merah, bawang merah, bawang putih, kunir, lengkuas, kemiri, ebi, kayu manis, pala dan lain-lain yang disatukan untuk dicampurkan menjadi gurihnya kuah santan. Keempat belas rempah inilah yang mungkin membuat rasa lontong karinya berbeda dengan warnanya yang kemerah-merahan. Meskipun banyak rempah yang dimasukkan, rasa kuahnya tetap ringan dengan citarasa yang juga terjaga.


Bagaimana dengan es campurnya? Hmm...bukannya tidak enak, tapi harus saya akui bahwa es campur kali ini sedikit di bawah harapan. Campurannya standar: irisan alpukat, kolang-kaling, cincau hitam, sekoteng merah, susu coklat, dan es serut. Penggunaan susu coklat di sini memang membuat kuah es jadi berwarna coklat. Tidak biasa, memang. Tapi rasanya kurang cocok memakai susu kental coklat untuk es campur. Tapi secara keseluruhan, okelah lontong kari di gang sempit ini, walaupun saya pernah juga makan lontong kari dengan kegurihan yang hampir sama di kaki lima.

Ketika saya hendak pulang, untuk memutar balik motor, saya harus masuk agak ke dalam gang sebelum menemukan ruang yang cukup untuk memutar. Di depan gang, saya dicegat seseorang yang tampaknya tukang parkir di situ, karena memang ada beberapa motor terparkir di ujung gang masuk. "Ini gang warga, soalnya," katanya saat ditanya kenapa dia minta duit. Saya lemparkan tiga keping Rp 200 ke telapak tangannya dengan tidak ikhlas dan segera menarik gas secepatnya. Apa saya akan kembali ke sini? Ya, mungkin saja.

Oya, ini daftar harga di warung ini selengkapnya:

Makanan:
Lontong Kari Rp 9.000,-
Lontong kari Spesial Rp 10.000,-
Soto Rp 10.000,-
Baso Tahu Kuah Rp 7.000,-
Nasi Goreng Rp 10.000,-
Mi Baso Rp 7.500,-

Minuman:
Es jeruk/kelapa/campur Rp 6.000,-
Jus alpukat Rp 7.500,-
Jus tomat Rp 6.000,-
Teh botol Rp 2.500,-

0 komentar:

Post a Comment