Travellous

Judul : Travellous
Penulis : Andrei Budiman
Penerbit : Travellous Publishing, Yogyakarta
Terbit : 2009


Saya membaca buku ini karena rekomendasi kenalan saya. Waktu itu saya mendatangi satu pertemuan anggota CouchSurfing dan Hospitality Club, dua situs jejaring sosial khusus
traveler atau backpacker, di sebuah rumah anggota di kawasan Cimahi. Namanya juga kumpul-kumpul para pelancong, obrolannya ya tidak jauh dari jalan-jalan. Nah, di acara itulah disinggung buku ini. “Udah baca Travellous? Lucu lho,” begitu kata salah seorang peserta kumpul-kumpul. Karena penasaran, dalam suatu perjalanan dinas kantor ke Jakarta, saya mencomot buku bergambar sampul menarik ini sebagai salah satu buku yang saya borong di keranjang belanja saya. Kebetulan waktu itu sedang ada diskon 30% all items di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta. Hanya tersisa dua eksemplar Travellous waktu itu, dan ini bikin saya tambah penasaran.

Setelah saya baca, well, apa mau dikata, cerita buku ini lumayan menarik. Travellous berkisah tentang perjalanan penulisnya, Andrei Budiman, berkeliling di beberapa negara Eropa. Andrei bercita-cita mengelilingi benua itu dengan biaya super irit. Ia pun mencari-cari cara untuk pergi ke sana, dan sebuah beasiswa workshop membuat film di Perancis berhasil didapatnya. Dari situlah jalannya melancong berkeliling Eropa terbuka.

Wataknya yang cukup nekat membuatnya pergi ke Singapura dan Malaysia lebih dulu guna memburu tiket murah. Sepanjang perjalanan ke sana, banyak kejadian kocak dan ajaib yang dialami Andrei. Misalnya, ia kebetulan bertemu dengan seorang bos asal Banjarmasin, kampung halaman Andrei, dan ia pun bisa menginap di hotel mewah dan makan enak atas tanggungan si bos. Andrei bahkan mendapat sedikit uang saku untuk melanjutkan pelancongannya. Kejadian lain adalah ketika ia berhasil mendapatkan tiket pesawat PP ke Belanda seharga $ 400 saja, setelah pada suatu siang sukses menggombali seorang wanita manajer sebuah biro perjalanan di Kuala Lumpur. Sorenya, ia pun berangkat. Pesawat bahkan sempat transit di Brunei dan Thailand dulu. Di mana pun, Andrei selalu berkenalan dengan orang lain. Entah dengan sesama penumpang atau sekalian dengan pramugari dan pramugaranya.

Singkat cerita, ia sampai di Belanda. Sebelum meneruskan perjalanan ke Perancis, ia tinggal dulu di sana selama beberapa hari. Di tempat mana pun yang ia singgahi, sepertinya ia selalu mendapatkan pengalaman seru. Misalnya, ia mendapatkan pekerjaan magang untuk dua minggu sebagai pekerja kasar di sebuah perusahaan percetakan. Untuk menuju tempat kerja dari rumah host Andrei, ia mesti bersepeda sejauh 15 kilometer. Dalam satu perjalanan pulang, ban sepedanya bocor. Andrei dibantu seorang gadis yang kebetulan lewat. “Di sini apa-apa harus mandiri, termasuk menambal ban sepeda kita sendiri,” begitu kata si gadis yang nantinya akrab dengan Andrei ini. Cukup menyentil juga, mengingat di sini kita bisa menemukan tukang tambal ban setiap beberapa puluh atau ratus meter.

Singkat cerita, Andrei berhasil tiba di Paris, Perancis, untuk memulai workshop film di sana. Ia berteman dekat dengan Ling dan Jules, dua gadis asal Cina dan Hong Kong. Hubungan mereka bahkan nyaris bisa disebut cinta segitiga. Selain berkeliling Perancis, ketika masa libur tiba, ia pun sempat ber-backpacking ria bersama Jules ke beberapa negara Eropa seperti Swiss, Jerman, dan Belgia. Andrei memang lebih banyak bercerita soal pengalaman pribadinya dan hal-hal ringan yang ia lihat sepanjang perjalanannya. Ia juga terbilang luput mendeskripsikan secara menarik dan terperinci negara-negara yang ia kunjungi, misalnya bangunan, makanan, sejarah, dsb. Tapi, yah, setiap pelancong punya keinginan berbeda-beda tentang apa yang ingin mereka lihat dan alami di negara yang mereka kunjungi.

Sayangnya, buku ini memiliki cacat yang cukup banyak. Yang paling mencolok adalah kesalahan ketik dan tata bahasa yang amburadul. Saya tahu persis bahwa sebuah buku, yang isinya ringan sekalipun, tidak harus baku ketika menggunakan bahasa baku. Itu sih tergantung kepintaran penulis dan penyunting dalam menggarap sebuah naskah. Penulis (atau editornya), misalnya, sama sekali tak paham bahwa ada yang namanya imbuhan kata kerja pasif (di-, seperti dalam kata ‘ditulis’) dan kata depan (di, seperti dalam kata ‘di rumah’). Cacat lain adalah penggunaan bahasa Inggris yang sering kali ngaco. Contoh: what I should to do now? Looking for the solve problem on the Internet. Atau ini: this time for me to looking for the hostel. Kalau Anda tidak tahu di mana letak kesalahannya, berarti bahasa Inggris Anda sama parahnya dengan penulis buku ini.

Cacat-cacat seperti yang saya sebutkan di atas sangat menganggu kelancaran membaca. Padahal buku ini punya editor, dan bahkan editornya pun menulis kata pengantar. Dalam kata pengantarnya, Enno, si editor, menulis begini: Dalam mengedit pun tak banyak yang saya lakukan. Tulisan Andrei tidak terlalu parah. Tidak ada salah ketik atau eja. Hah? Nggak salah nih? Pantas saja tulisan di buku ini lumayan amburadul, lha si editornya saja bilang “tak banyak yang saya lakukan”. Mungkin ia terbuai dengan kisah petualangan Andrei dan lupa mengedit. Sayang sekali ketika cerita menarik harus tampil cacat hanya karena editingnya tidak serius. Padahal sebenarnya Andrei punya pengalaman menarik dan kocak. Caranya bertutur pun lumayan enak dan lugas. Buku ini bahkan lebih enak dibaca daripada buku Back Europe Pack - Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dollar tulisan Marina Silvia yang membosankan itu. Bagaimanapun, Travellous cukup lumayan kalau diniatkan untuk dibaca sebagai hiburan. Untuk tahu bagaimana nikmatnya perjalanan berkeliling dunia. Lebih dari itu, tak usah berharap terlalu banyak.[]

0 komentar:

Post a Comment